Percikan Najis Musim Hujan



Saking semangatnya mengikuti shalat berjamaah di Masjid atau Mushola kadang kita tak peduli akan teriknya panas matahari ataupun derasnya hujan. Bagi yang teliti akan hukum islam (fiqh) mengenai bab Thoharoh pada musim hujan seperti sekarang, mungkin akan bertanya-tanya; Bagaimana tuh hukumnya kain sarung atau baju yang terkena percikan air jalanan pada musim hujan? padahal yang namanya jalanan kan sudah tercampur dari berbagai macam kotoran bahkan najis.
Mengenai hal tersebut Hujjatul Islam – Imam Ghazali menjelaskan dalam al Wajiz (Syarhul Kabir):
قال الغزالي : يُعْذَرُ مِنْ طِيْنِ الشَّوَارِعِ فِيْمَا يَتَعَذَّرُ الإِحْتِرَازُ عَنْهُ غَالِبًا
Imam Al-Ghazali berkata: Pakaian yang terkena percikan lumpur maupun air dijalan karena sulitnya menghindarkan diri darinya, maka hal ini dimaafkan.
Kemudian jika percikan air maupun lumpur tersebut diyakini mengandung najis, misalnya genangan air tersebut adalah luapan dari got ataupun comberan yang najis. Maka hal ini juga dimaafkan jika memang percikan tersebut sedikit. Seperti pendapat Imam Ar-Rafi’I dalam kitabnya al Aziz Syarhul Wajiz.
وَأَمَّا مَا تَسْتَيْقِنُ نَجَاسَتَهُ فَيُعْفَى عَنِ القَلِيلِ مِنْهُ. وأمَّا الكَثِيْرُ فَلاَ يُعْفَى عنهُ كَسَائِرِ النَّجَاسَاتِ
Jika diyakini jalan tersebut ada najisnya, maka hukumnya dimaafkan jika percikan tersebut hanya sedikit, namun jika percikan tersebut banyak maka tidak dimaafkan, sebagaimana hukumnya najis-najis yang lain.
Alasan kenapa najis yang sedikit diatas dimaafkan, karena akan memberatkan jika harus diperintahkan untuk segera mencuci pakaian yang terkena percikan tersebut. Padahal ia hanya membawa satu pakaian dan juga ia harus memenuhi kebutuhan hidupnya.
via NU.or.id

0 komentar:

Poskan Komentar