Pak Wapres, Inilah Dalilnya Bahwa Adzan Memang Harus Keras

Menurut syariat Islam, adzan memang harus dikumandangkan dengan keras. Tidak sayup-sayup apalagi lirih. Tujuannya agar umat Islam mendengar dan bergegas memenuhi panggilan adzan itu, segera mendirikan shalat.

Jika Wapres Boediono minta adzan diatur, agar tidak keras, jelas pernyataan itu bertentangan dengan syariat Islam. Berikut dalil-dali yang dikumpulkan oleh pengasuh rubrik Persoalan Umat di Suara Islam Online, Ustadz Muhammad Muafa, mengenai keharusan adzan dikumandangkan secara keras.

"Dari Abdurrahman bin Abdullah bin 'Abdurrahman bin Abu Sha'sha'ah Al Anshari Al Mazini dari Bapaknya bahwa ia mengabarkan kepadanya, bahwa Abu Sa'id Al Khudri berkata kepadanya, "Aku lihat kamu suka kambing dan lembah (penggembalaan). Jika kamu sedang mengembala kambingmu atau berada di lembah, lalu kamu mengumandangkan adzan shalat, maka keraskanlah suaramu. Karena tidak ada yang mendengar suara mu'adzin, baik manusia, jin atau apapun dia, kecuali akan menjadi saksi pada hari kiamat." Abu Sa'id berkata, "Aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." (H.R.Bukhari)
Lafadz "maka keraskanlah suaramu" cukup jelas dan lugas yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan adzan dilakukan dengan suara keras agar bisa didengar banyak orang.
Di zaman Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam Mu'adzin sengaja memilih tempat yang tinggi agar suara yang yang dikumandangkan bisa didengar banyak orang. Abu Dawud meriwayatkan; "Dari Urwah bin Az-Zubair dari seorang wanita dari Bani Najjar dia berkata; Rumahku adalah rumah yang paling tinggi di antara rumah-rumah yang lain di sekitar Masjid, dan Bilal mengumandangkan adzan subuh di atasnya" (H.R. Abu Dawud)
Maknanya; Bilal sengaja memilih naik rumah salah seorang wanita Anshor yang paling tinggi untuk mengumandangkan Adzan. Pemilihan ini dimaksudkan agar suara adzan yang dikumandangkan dengan keras bisa didengar banyak orang karena jangkauannya yang lebih luas.
Demikian pula Iqomah. Di zaman Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam Iqomah juga dikumandangkan dengan keras sampai terdengar di luar masjid (bukan hanya didengar jamaah masjid yang ada di dalam). Bukhari meriwayatkan; Dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika kalian mendengar iqamat dikumandangkan, maka berjalanlah menuju shalat dan hendaklah kalian berjalan dengan tenang berwibawa dan jangan tergesa-gesa. Apa yang kalian dapatkan dari shalat maka ikutilah, dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah." (H.R. Bukhari)
Ucapan Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam "Jika kalian mendengar iqamat" bermakna: Jika kalian mendengar Iqomah dari luar masjid dengan bukti adanya lafadz " maka berjalanlah menuju shalat ". Karena itu, hadis ini menunjukkan bahwa Iqomah di zaman Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam dikumandangkan dengan keras hingga terdengar orang di luar masjid.
Riwayat senada disebutkan An-Nasai dalam Sunannya; Dari Abu Al Mutsanna -mu'adzin masjid jami'- dia berkata; "Aku pernah bertanya kepada Ibnu 'Umar tentang adzan, lalu beliau menjawab, 'Adzan pada zaman Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam adalah dua-dua dan iqamah sekali-sekali, kecuali ketika mengucapkan, "Qad qaamatish-shalah".' -diucapkannya dua kali-. Ketika kami mendengar 'Qad qaamatish-shalah" maka kami berwudhu, kemudian segera shalat." (H.R. An-Nasai)
Bahkan Ibnu Umar pernah mendengar Iqomah dari Baqi', padahal jarak antara masjid Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam dengan Baqi cukup jauh. Imam Malik meriwayatkan; Dari Nafi' Abdullah bin Umar mendengar Iqamat ketika berada di Baqi', lalu dia bersegera menuju masjid." (H.R.Malik)
Berdasarkan riwayat-riwayat di atas, bisa difahami bahwa adzan dan iqomat, keduanya dikumandangkan dengan suara keras dengan maksud agar didengarkan kaum muslimin di sekitar masjid supaya mereka memenuhi panggilan shalat.Posted by : Dodik Black Aditia

0 komentar:

Poskan Komentar