Siapakah yang dimaksudkan Allah dengan “Shiraathal-ladzina an’amta ‘alaihim” (jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka) dalam surat Al-Fatiha ?

Siapakah yang dimaksudkan Allah dengan “Shiraathal-ladzina an’amta ‘alaihim” (jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka) dalam surat Al-Fatiha ?

Yang dimaksud “jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka”, yang pertama secara pasti adalah para Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul atau lain-lain orang yang bukan Nabi atau Rasul, tetapi mempunyai pendapat atau kepercayaan yang sama dengan pendapat atau kepercayaan Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul itu.

Di dalam kitab hadis Shahih Ibnu Hibban, diterangkan bahwa Rasulallah s.a.w. pernah ditanyakan tentang jumlahnya Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul itu. Rasulullah menjawab: 124000 Nabi-Nabi, di antaranya 313 atau 314 orang Rasul.

Di antara Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul itu ada 25 orang yang diceritakan Allah kepada Nabi Muhammad s.a.w. dalam al-Qur’an. Mereka itu ialah: Adam, Idris, Nuh, Hud, Saleh, Luth, Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’kub, Yusuf, Syu’aib, Harun, Musa, Dawud, Sulai- man, Ayyub, ZulkifIi, Yunus, Ilyas, Ilyasa’ , Zakaria, yahya, Isa dan Muhammad saw.

Di antara 25 Rasul-Rasul tersebut, 5 orang mendapat julukan Ulul-Azmi, yaitu Muhammad saw., Ibrahim as, Musa as, Isa as dan Nuh as.
Dan Nabi Muhammad s.a.w. adalah Nabi yang paling utama, dan sebagai Nabi dan Rasul penutup. Tidak ada Nabi dan Rasul lagi sesudah Nabi Muhammad s.a.w. Serta syariat atau ajarannya meliputi ajaran seluruh Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul. Kitab Suci al-Qur’an telah mengandung seluruh Kitab-Kitab Suci yang diturunkan kepada Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul sebelum Nabi Muhammad saw. Firman Allah:
“Tidaklah Muhammad itu bapak seorang dari laki-laki kamu. tetapi ia adalah Pesuruh Allah dan penurup segala Nabi.” (al-Ahzab: 40)
Kemudian, “jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka”, sesudah Rasul-Rasul dan Nabi-Nabi, yang paling mulia ialah para Sahabat Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul itu. Dan di antara para Sahabat Nabi-Nabi, maka Sahabat Nabi Muhammad s.a.w. yang paling banyak jumlahnya. Berpuluh-puluh ayat al-Q,uran dan Hadis Nabi memuji para Sahabat (maksudnya adalah sahabat baginda Nabi Muhammad saw), sehingga ijma’ pula para Ulama mengatakan bahwa seluruh Sahabat Rasulullah s.a.w. masuk Syurga, dan setiap orang Islam harus mensucikan mereka dan mencintai mereka.
Di antara sekalian Sahabat yang paling mulia sepuluh orang (termasyur dalam sejarah dengan istilah Agnatul Kiraam), yaitu sepuluh orang yang semasa hidup mereka, telah diberitahukan oleh Rasulullah s.a.w. bahwa mereka akan masuk Syurga”. Mereka itu ialah:
1. Abu Bakar as Sidiq ra,
Khalifah Pertama sesudah Rasulullah s.a.w. Keistimewaan beliau, ialah: Laki-laki pertama masuk Islam, tersebut di dalam al-Qur’an beliau sebagai.Sahabat Rasulullah s.a.w. (Surah at-Taubah 40), dan paling besar pengorbanannya untuk Islam dan lain-lain. Meninggal dalarn umur 63 tahun.
2. Umar ibn Khatab ra,
Yairu Khalifah kedua sesudah Rasulullah s.a.w. Keistimewaan beliau banyak sekali. Pertama, sesudah beliau masuk Islam dalam umur 27 tahun, tahun keenarn sesudah Nabi Muhammad s.a.w. menjadi Rasul. Dengan islamnya Umar ra, seluruh Malaikat menjadi gembira. Di zaman pemerintahan Umar, Islam berkembang seluas-luasnya ke timur dank e barat. Kerajaan Persia dan Rumawi Timur dapat ditaklukkan dalam satu tahun. Beliau meninggal dalam umur 64 tahun karena dibunuh.
Patut diketahui bahwa Rasuluilih s.a.w., Abu Bakar ra dan Umar Ibnul Khattab ra dikuburkan berdekatan di bekas rumah Aisviah yang sekarang terletak di dalam Masjid Nabawi di Madinah. Setiap orang islam lebih-lebih yang menunaikan ibadat haji, disunatkan ziarah ke Madinah.
3. Usman ibn ‘Affan ra,
Khalifah ketiga. Keistimewaan beliau banyak sekali, lebih-lebih mengenai pengumpulan tulisan-tulisan ayat al-Qur’an, kernudian menyusunnya menurut susunan yang telah ditetapkan oleh’Rasulullah s.a.w. sehingga menjadi Kitab Suci al-Qur’an sebagai yang kita dapati sekarang ini. Menurut Rasulullah s.a.w. bahwa seluruh Malaikat merasa malu kepada Usman karena ibadatnya. Beliau meninggal dalam umur 82 atau 88 tahun dan dikuburkan di Baqi’.
4. Ali ibn Abi Thalib kwh,
Khalifah keenipat. Keistimewaan beliau banyak sekali lebih-lebih tentang keberanian, siasat perang dan ilmu pengetahuan, setiap kata yang keluar dari mulut beliau rhengandung maksud dan arti yang amat dalam. Beliau meninggal dalam umur 64 tahun dikuburkan di Kufah (Irak).
5. Thalhah ibn Ubaidillah ra,
Masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar as-Siddiq. Turut di seluruh medan perang selain perang Badar. Di dalam Perang Uhud, beliaulah yang mempertahankan Rasulullah s.a.w. sehingga terhindar dari mata pedang musuh, sehingga putus jari-jari beliau. Beliau meninggal umur 64 tahun dalam Perang Jamal di zaman Khalifah Ali bin Abu Talib r.a. Dikuburkan di Basrah.
6. Az-Zubair ibnul ‘Awaam ra,
Masuk Islam umur 16 tahun dengan perantaraan Abu Bakar as- Siddiq, berhijrah 2 kali ke Habasyah, turut dalam seluruh medan perang. Meninggal umur 63 tahun dalam perang Jamal, dikuburkan di Basrah.
7. Sa’ad ibn Abu Waqqas ra,
Masuk Islam umur 17 tahun dengan perantaraan Abu Bakar as-Siddiq, turut di seluruh medan perang. Pernah tertawan lalu ditebus oleh Rasulullah s.a.w. dengan 2 orang ibu bapaknya sendiri, yaitu dalam perang Uhud.
8. Said ibn Zaid ra,
Islam sejak kecilnya. Dan turut di seluruh medan perang selain perang Badar. Beliau bersama Thalhah pernah diperintahkan Rasulullah memata-matai gerakan musuh (Quraisy). Beliau meninggal dalam umur 70 tahun, dikuburkan di Baqi’.
9. Abdurrhahman ibn ‘Auf ra,
Islam sejak mudanya dengan perantaraan Abu Bakar as-Siddiq. Turut berhijrah ke Habasyah 2 kali, turut dalam seluruh medan perang bersama Rasulullah s.a.w. Meninggal umur 72 atau 75 tahun. Dikuburkan di Baqi’.
10. Abu Ubaidah Amir ibnul Jaraah:
Masuk Islam bersama Usman bin Math’uun, turut berhijrah ke Habasyah yang kedua, turut dalarn semua medan perang bersama Rasulullah s.a.w. Meninggal tahun 18 H. di Jordan (Syam) karena terkena penyakit menular pest. Dikuburkan juga di Jordan yang sampai sekarang banyak diziarahi kaum Muslimin.
Sesudah Sahabat-Sahabat yang sepuluh orang di atas ini, maka yang paling mulia menurut ijma’ Ulama ialah para Sahabat yang turut perang Badar. Kemudian itu yang turut perang Uhud. Kemudian itu yang turut bersumpah di bawah pohon di Hudaibiah, yang termasyhur dengan Bai’atur Ridhwaan (Sumpah Ridhwan) yang tersebut di dalam al-Quran:
“Sesungguhnya Allah ridha terhadap kaum Mu’minin tatkala mereka berjanji taat (bersumpah) kepadamu di bawah pohon itu, maka Dia (Allah) tahu apa-apa yang di hati mereka, lalu Dia turunkan ketenteraman atas mereka, dan Dia ganjari mereka dengan kemenangan yang dekat.” (al Fath:18)
Sesudah itu yang paling mulia ialah lain-lain Sahabat sampai Sahabat yang paling akhir meninggal dunia, yaitu Abu Thufail, berdasarkan Hadis Rasulullah s.a.w. :
“sebaik-haik manusia ialah yang hidup dalam qurunku.”
Yang dimaksud dengan qurunku dalam hadis tersebut, ialah masa sejak Rasulullah s.a.w. diangkat menjadi Rasul sampai meninggalnya Sahabat yang terakhir, yaitu Abu Thufail. Lama masa ini kurang lebih 120 tahun.
Sesudah meninggalnya seluruh sahabat, maka yang paling mulia ialah golongan Tabi’in yaitu setiap Muslim yang pernah hidup bersama para Sahabat. Dan para Ulama sedikit berlainan pendapat tentang lamanya masa Tabi’in ini, apakah dua qurun atau 3 qurun sesudah qurun hidupnya Rasulullah s.a.w. karena sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Tirmidzi dari Imraan bin Husain yang berkata: Aku lupa apakah 2 qurun atau 3 qurun sesudah qurun Rasulullah s.a.w.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Hasan bin Jabir, Rasulullah s.a.w. pernah berkata:
” Tidak akan disentuh api Neraka seorang muslim yang melihat saya atau melihat orang yang melihat saya.”
Dan manusia termulia dari golongan Tabi’in menurut sebuah Hadits Rasulullah s.a.w. ialah Said bin Musayyab dan Uwais al-Qarni. Dan sesudah golongan Tabi’inyang paling mulia ialah golongan pengikut Tabi’in, kemudian golongan pengikut dari pengikut Tabi’in sampai kira-kira tahun 220 H. Umumnya para Ulama berpendapat, bahwa golongan pengikut Tabi’in yang hidup sampai tahun 220 H.
“Sebaik-baik zaman adalah di zamanku (sahabat), kemudian orang sesudah mereka (tabi’in) dan kemudian orang sesudah mereka (atba’ tabi’in).” (Riwayat Bukhari).
Bagaimana dengan masa setelah sekarang ini
Adapun sesudah zaman tabi’it tabi’in, mulailah muncul perselisihan-perselisihan. Perbuatan-perbuatan yang melanggar ajaran islam semakin banyak. Muncul hadis-hadis maudhu. Muncul golongan-golongan sempalan, semisal mu’tazilah. Timbullah Imam-Imam dan Ulama-Ulama yang mengatakan al-Qur’an itu makhluk, dan lain sebagainya.
Akan ada perselisihan faham yang banyak, sampai 73 faham (i’tiqad/firqah). Dan telah menjadi fakta sejarah yang tidak dapat dirubah lagi dan sudah menjadi pengetahuan yang terdapat dalam buku-buku agama terutama buku-buku Ushuluddin.Dalam buku-buku Ushuluddin itu terdapat beberapa nama firqah, antara lain; Syi’ah, Khawarij, Mu’tazilah, Qadariyah, Jabariyah, Mujassimah, Bahaiyah, Ahmadiyah, Wahabiyah, Ahlussunnah wal Jama’ah (Sunni), dan lain-lain.
Jika pada masa sebelum baginda Nabi saw sampai dengan masa beliau, yang dimaksud dengan “jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka” telah disebut dengan jelas siapakah mereka. Itulah para Nabi-Nabi dan Rasul. Keutamaan mereka disebutkan di dalam al Qur’an. Kemudian di era baginda Nabi saw dan sedikit sesudahnya, itulah para sahabat. Siapakah mereka dan keteladanannya disebut-sebut dalam berbagai riwayat. Kemudian masa sesudah itu juga disebut keutamaannya, namun mulai tidak disebut siapa-siapa personnya. Namun umat islam masih dapat mengidentifikasi secara jelas karena masih bagusnya masa itu.
Kemudian di masa sesudah tabi’it tabi’in tidak disebut secara jelas siapakah mereka yang termasuk di dalam “jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka”. Maka kita lebih sulit mengidentifikasi untuk masa-masa itu, apa lagi untuk masa kini.
Namun kita jangan berkecil hati. Allah dan Rasul-Nya telah menyertakan cirri-ciri yang kita dapat mengidentifikasikannya, dan kemudian mengikutinya. Bagaimanakah ciri-cirinya, semoga uraian berikut dapat membantu,
1. Ahlus sunnah wal jamaah. Inilah golongan yang masuk dalam “jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka”. Inilah golongan yang mengikuti sunnah baginda Nabi saw dan para sahabatnya, terutama khulafaur rasyidin.
Sabda Rasulullah SAW : ‘ Saya berpesan kepada kamu supaya sentiasa bertaqwa kepada Allah Azza wajalla serta mendengar dan taat sekalipun kepada seorang hamba yang memerinta kamu. Sesungguhnya orang-orang yang masih hidup di antara kamu akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kamu berpegang kepada sunnahku dan sunnah Khalifah Ar-Rasyiddin Al-Mahdiyyin yang beroleh petunjuk dan gigitlah ia dengan gigi geraham kamu. Dan jauhilah kamu dari pekara-pekara yang diadakan, kerana sesungguhnya tiap-tiap bida’ah itu menyesatkan. ‘ (HR. Abu Daud dan Turmuzi, dia berkata : hasan shahih)
“Sesungguhnya Bani Israil pecah menjadi 72 golongan dan ummatku akan pecah menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan, mereka bertanya; siapakah yang satu golongan itu ya Rasulullah? Rasulullah menjawab; mereka itu yang bersama aku dan sahabat-sahabatku”. (Tirmidzy)
“Dari shabat Auf r.a. berkata; Rasulullah bersabda; Demi yang jiwa saya di tangan-Nya, benar-benar akan pecah ummatku menjadi 73 golongan, satu masuk surga dan 72 golongan masuk neraka, ditanya siapa yang di surga Rasulullah? Beliau menjawab; golongan mayoritas (jama’ah). Dan yang dimaksud dengan golongan mayoritas mereka yang sesuai dengan sunnah para sahabat”. (Ibnu Majah)
“Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad di tangan-Nya, akan berfirqah ummatku sebanyak 73 firqah, yang satu masuk surga dan yang lain masuk neraka”. Bertanya para sahabat, “siapakah firqah (yang tidak masuk neraka) itu, Ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “Ahlussunnah wal Jama’ah” (HR Thabrani)
Hadits yang mengandung arti dan maksud seperti terakhir ini juga terdapat dalam buku Al Milal wan Nihal karangan Syahrastani (wafat 1127M/548H)
2. Ahlussunnah wal jama’ah, menurut hadits Nabi saw dan fakta sejarah Islam adalah golongan terbesar (mayoritas) ummat Islam yang mengikuti sistem pemahaman Islam, baik dalam tauhid dan fiqih dengan mengutamakan dalil Al-Qur’an dan Hadits.
“Sesungguhnya umatku tidak akan berkumpul (untuk bersepakat) atas kesesatan. Maka apabila kalian mendapati perbedaan pendapat, hendaklah kalian mengikuti kelompok (ulama) yang terbesar (terbanyak)” (HR. Ibnu Majah)
“Sesungguhnya Umatku tidak akan bersepakat atas kesesatan. Sekiranya kamu lihat perselisihan, maka hendaklah kamu ambil “As-Sawad Al-‘Azam”[Ibnu Majah : 3940]
Dalam menafsirkan maksud “sawad a’zam”, Kitab As-Sindi menyatakan, Maksudnya; “Jemaah yang ramai. Kerana, kesepakatan mereka lebih hampir kepada ijmak”. Imam As-Sayuti dalam menafsirkan “sawad ‘Azam”; Maksudnya;“Ia adalah himpunan manusia dan kebanyakkan yang mereka bersepakat atas melalui jalan yang betul. Hadis itu menunjukkan bahawa selayaknya beramal dengan perkataan majoritas” [Hasyiah As-Sindi : 3940]
Daripada Ibnu Umar r.a. bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan menghimpunkan umatku (atau sabda baginda) umat Muhammad s.a.w. di atas kesesatan. Tangan Allah bersama jamaah dan sesiapa yang berseorangan (tidak mengikut jamaah) dia akan berseorangan ke neraka”. (Tirmidzi)
Sesungguhnya akan ada setelahku kejelekan dan kerusakan. Maka barang siapa yang melihat orang yang memisahkan diri dari jama’ah (mayoritas umat Islam) atau ingin memecah urusan (agama) umat Muhammad Saw. yang secara nyata terjadi, maka perangilah. Sesungguhnya rahmat Allah atas jama’ah. Sesungguhnya syetan berlari bersama orang yang memisahkan diri dari jama’ah” (HR. An-Nasa’i).
Karena itu, bukalah wawasan .. bukalah pikiran. Pelajari pendapat para ulama dari berbagai belahan dunia. Simak ulama- ulama dari zaman ke zaman. Bukan hanya dari kelompok anda, kampung anda, dan di era masa kini saja.
3. Ahlus sunnah waljamaah adalah pengikut para ulama.
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Abu Dawud)
“Sebaik-baik zaman adalah di zamanku (sahabat), kemudian orang sesudah mereka (tabi’in) dan kemudian orang sesudah mereka (atba’ tabi’in).” (Riwayat Bukhari).
Demikianlah, baginda Nabi Muhammad saw mewariskan wahyu Allah dan sunnahnya kepada para sahabat. Para sahabat mewariskannya ke tabi’in. Tabi’in ke para muridnya tabi’it tabi’in. Kemudian para ulama tabi’it tabi’in mewariskannya ke generasi berikutnya. Ulama generasi ini mewariskannya ke ulama generasi berikutnya. Demikianlah seterusnya sampai saat ini.
Maka tentunya ulama yang patut diikuti adalah ulama yang mewarisi ulama sebelumnya, dari ulama sebelumnya lagi, dari sebelumnya lagi, dan akhirnya berhulu kepada baginda Nabi Muhammad saw.
Zaman terbaik adalah zaman Nabi saw, kemudian sesudahnya (sahabat), kemudian sesudahnya (tabi’in), dan sesudahnya (tabi’it tabi’in). Mutu kualitas umat islam akan turun dari zaman ke zaman. Penurunan itu menurut hemat kami adalah secara gradual, perlahan-lahan dari zaman-ke zaman. Demikianlah sampai menjelang hari kiamat nanti disebutkan,
Rasulullah bersabda; “Islam dihapuskan seperti hilangnya warna baju sampai tidak diketahui apa itu puasa, shalat, haji dan sedekat. Kitabullah dimusnahkan dalam satu malam sampai tidak tersisa satu ayat pun dan yang tersisa adalah kakek-kakek serta nenek-nenek yang mengatakan, ‘kami melihat orang tua kami mengatakan la ilaaha illallah (tidak ada Tuhan selain Allah), maka kami pun mengatakannya’.”
Al-Hakim dalam kitab Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah mengemukakan, hadits di atas shahih, sesuai syarat Imam Muslim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi. Imam Al-Bushairi menambahkan, sanadnya shahih dan perawinya terpercaya.
Berkurangnya kualitas umat adalah akibat semakin sedikitnya ulama dibandingkan dengan jumlah umat. Selain itu, keterbatasan sang murid yang kelak menjadi ulama sehingga tidak menyerap seluruh warisan baginda Nabi saw yang dibawa gurunya. Bersabda baginda Nabi saw,
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari manusia. Namun Allah akan mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak tersisa lagi seorang berilmu (di tengah mereka), manusia mengangkat para pemimpin yang jahil. Mereka ditanya, dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Hingga akhirnya mereka sesat dan menyesatkan (orang lain)”
Berkurangnya keberadaan orang-orang sholeh di tengah kehidupan masyarakat, bertambah sedikit jumlah orang yang mempelajari kitab Al-Quran dan terus menurunnya penyebaran Islam menjadi pertanda akan segera berakhirnya umur dunia.
Walaupun demikian, jalan ahlus sunnah wal jamaah adalah jalan para pengikut ulama, walaupun semakin sedikit jumlahnya. Jalannya kaum yang mewarisi ilmu ulama. Itulah orang-orang yang mengikuti dan mengambil jalan baginda Nabi saw melalui para pewaris Nabi. Bukan dari tulisan orientalis, bukan dari orang-orang yang tak jelas juntrungnya.
Karena itu, perhatikanlah.. Kita tak hidup di zaman Nabi saw, maka berhati-hatilah,, simak baik-baik dari mana anda mengambil ilmu agama ini.
Dan kita tak perlu berkecil hati, karena Allah akan selalu memberikan kasih sayang-Nya dengan tetap mempertahankan orang-orang sholeh sebagai panutan umat sepanjang zaman. Akan tetap ada ulama panutan umat,
“Akan ada segolongan ummatku yang tetap atas kebenaran sampai hari kiamat dan mereka tetap atas kebenaran itu” (HR Bukhari)
Dua hadits berikut patut diperhatikan,
‘Sesungguhnya aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan tersesat sepeninggalku, yang mana yang satunya lebih besar dari yang lainnya, yaitu Kitab Allah, yang merupakan tali penghubung antara langit dan bumi, dan ‘itrah Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga datang menemuiku di telaga. Maka perhatikanlah bagaimana kamu memperlakukan keduanya’[At Tirmidzi]
“Aku tinggalkan kepadamu dua perkara. Selama kalian tetap berpegang pada keduanya sepeninggalku, maka kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah dan Sunnahku.” [Muwatta Imam Malik, hlm. 899 Hadits no. 1395]
Tentu saja ulama tak terbatas pada hanya keturunan baginda Nabi saw saja. Banyak ulama dari kalangan biasa yang juga sangat alim, bahkan menjadi waliyullah. Namun, hadits di atas pantas menjadi renungan dan pertimbangan. Tentunya kedua hadits itu satu sama lain saling berkaitan. Al Qur’an tak akan terlepas dari sunnah, dan Ahlul bait yg patut dipanut adalah ahlul bait yg mengikuti sunnah, saya kira demikian yg lebih sempurna dalam menyatukan dua hadits tersebut. Dan Allah swt telah menetapkan adanya keturunan baginda Nabi saw yang mengawal ajaran ini sampai menjelang kiyamat nanti,
Dari Aishah ra katanya, Rasulullah SAW telah bersabda : “Al-Mahdi itu seorang lelaki dari cucuku, ia akan berperang atas sunnahku seperti aku berperang atas wahyu”. Hadith riwayat Na’im bin Hammad
Dari Said bin Al-Musaiyab dari Ummu Salmah yang berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Al-Mahdi itu dari keturunanku dari anak cucu Fatimah”. Hadith riwayat Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah, An-Nasa’i, At-Tabarani dan Al-Hakim
Peringatan
Di zaman akhir waspada lah terhadap peringatan baginda Nabi saw ini. Mereka ini tampak seperti jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka. Namun mereka ini adalah laknat Allah atas mereka,
“Akan ada di lingkungan ummatku 30 orang pembohong yang mendakwakan bahwa dirinya adalah Nabi. Saya adalah Nabi penutup, tidak ada lagi Nabi sesudahku” (HR Tarmidzi)
“Akan keluar suatu kaum akhir zaman, orang-orang muda berfaham jelek. Mereka banyak mengucapkan perkataan “Khairil Bariyah” (maksudnya firman-firman Allah SWT yang dibawa oleh Nabi). Iman mereka tidak melampaui kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama sebagai meluncurnya anak panah dari busurnya. Kalau orang-orang ini berjumpa denganmu lawanlah mereka” (HR Bukhari)
Said al Khudri menyatakan bahwa Rasulullah saw bersabda: ”Nanti akan muncul di antara kamu kaum yang menghina shalat kamu dibandingkan dengan shalat mereka, dan puasa kamu dibandingkan dengan puasa mereka, amal perbuatan kamu dibandingkan dengan amap perbuatan mereka, mereka itu membaca Al-Quran tetapi bacaan mereka tidakakan melewati kerongkongan mereka, dan mereka akan keluar dari agama sebagaimana anak panah keluar dari busurnya ” (Sahih Bukhari/5058 ).
Ketika ada kelompok pengajian yang jamaahnya sedikit. Mereka mengkafir-kafirkan umat islam di luar kelompoknya. Mereka mensesat-sesatkan amal umat islam di luar kelompoknya. Mereka mengaku sebagai kelompok yang paling shahih. Maka ..waspadalah.. waspadalah .. waspadalah. Ini bukan kelompok yang menempuh “jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka”. Bahkan baginda Nabi saw sudah memberi peringatan tentang mereka ini. wallahu'alam

0 komentar:

Poskan Komentar