* Nabi Syits 'Alaihissalam *

* Nabi Syits 'Alaihissalam *


Makna Syits adalah Hibatullah (pemberian Allah). Adam dan Hawa memberinya nama Syits karena mereka diberikan dengan kelahirannya setelah terbunuhnya Habil.
Abu Dzarr berkata dalam haditsnya dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam :
"Sesungguhnya Allah telah menurunkan seratus empat shahifah (lembaran). Lima puluh shahifah diturunkan kepada Syits"
(HR. Ibnu Hibban dalam kitab ash Shahih)
Muhammad bin Ishaq berkata : Ketika Adam akan meninggal dunia, maka ia berpesan kepada anaknya Syits. Adam mengajarkan kepadanya waktu-waktu siang dan malam serta berbagai macam ibadah di waktu-waktu tersebut. Adam juga memberitahukan kepadanya waktu terjadinya taufan setelah itu.
Ibnu Ishaq berkata : Dikatakan bahwa seluruh nasab Bani Adam saat ini semuanya kembali kepada Syits. Sedangkan anak-anaknya yang lain lenyap dan musnah. Wallahu a'lam.
Setelah Adam 'Alaihissalam wafat, maka yang memikul segala urusan adalah anaknya, Syits 'Alaihissalam. Ia adalah seorang Nabi berdasarkan nash hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab ash Shahih dari Abu Dzarr secara marfu'. Diriwayatkan bahwa telah diturunkan kepadanya lima puluh shahifah (lembaran).
Setelah mendekati ajalnya, maka Syits berwasiat kepada anaknya Anusy. Maka Anusy memimpin segala urusan sepeninggal Syits. Kemudian beralih ke anaknya Qinan, kemudian beralih ke anaknya Mahlayil. Orang-orang asing dari Persia menganggapnya sebagai orang yang menguasai tujuh daerah, orang yang pertama kali menebang pohon-pohon, membangun kota dan benteng-benteng yang besar. Dia dianggap sebagai orang yang membangun kota Babilonia dan as Sus al Aqsha. Dia adalah orang yang memaksa Iblis dan bala tentaranya dan mengusir mereka dari datratan bumi menuju ke tepian laut dan puncak-puncak gunung. Dia memiliki mahkota yang sangat besar. Dia pernah berpidato dihadapan orang-orang. Kekuasaannya berlangsung selama empat puluh tahun.
Ketika ia meninggal, maka tugas tersebut beralih ke anaknya Yaris. Disaat telah mendekati ajalnya, maka ia berwasiat kepada anaknya Khanukh yang lebih dikenal dengan sebutan Idris 'Alaihissalam.
(Kisah Para Rasul dan Nabi.
al-hafizh Ibnu Katsir Rhadiyallahuan)

0 komentar:

Poskan Komentar